oleh

Keunikan Pantai Terumbu Mabloe, Pantai dari Pesisir Inhil

banner 720x90

Infoinhil.com – Tidak hanya terkenal dengan Pantai Solopnya, ternyata Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) juga memiliki wisata pantai lainnya yang cukup unik untuk dikunjungi, yaitu ekowisata Pantai Terumbu Mabloe.

Destinasi wisata pesisir ini terletak di Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuala Indragiri), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.


banner 970x250

Pantai Terumbu Mabloe telah menjadi kawasan ekowisata andalan masyarakat Desa Sungai Bela yang kebanyakan dihuni oleh suku duanu (suku orang laut) di Inhil.

Pantai ini memang tidak menyajikan keindahan alam khas pantai pada umumnya yang memiliki pasir dan ombak, namun banyak hal – hal unik yang alami dan bisa ditemui di pantai berlumpur ini.

Perpaduan antara pantai berlumpur dengan hutan Mangrove akan menjadi daya tarik tersendiri selain flora dan fauna endemis yang hanya bisa ditemui di pantai ini.

Pantai berpasir sersah ini memiliki beragam jenis fauna, khususnya spesies burung – burung migran yang umumnya berasal dari Asia Selatan dan tak jarang juga berasal dari Australia dan Asia Timur.

Pantai Terumbu Mabloe menjadi tempat migrasi atau persinggahan burung – burung tersebut, satu diantara spesies burung migran di Pantai Terumbu Mabloe adalah burung Kedidi (Calidris).

Burung Kedidi (Calidris) biasanya akan bermigrasi saat musim kawin dan pada saat musim salju besar Burung Kedidi juga akan migrasi dan bermain di pantai terumbu mabloe

Uniknya lagi, Pantai Terumbu Mabloe terbentuk dari cangkang kerang-kerangan yang diketahui berasal dari perairan Muara Lajau, satu diantara muara dari sungai Indragiri.

Fenomena lainnya yang menjadikan pantai ini semakin unik adalah karena wisatawan hanya dapat berkunjung ke Pantai Terumbu Mabloe di waktu tertentu, yaitu, saat air sungai surut.

Pada momen itu Pantai Terumbu Mabloe akan hilang sementara dari pandangan saat air pasang dan akan kembali muncul ke permukaan ketika air surut.

Fenomena ini yang membuat sebagian dari kawasan pantai menjadi berlumpur sehingga dimanfaatkan oleh suku duanu untuk mencari kerang (menongkah).

Mabloe sendiri merupakan nama lain dari Desa Sungai Bela, sehingga Pantai Terumbu Mabloe dapat juga diartikan sebagai Pantai Terumbu Sungai Bela atau Pantai Terumbu Desa Sungai Bela.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Olaharaga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Inhil, Junaidy Ismail menjelaskan, kawasan Pantai Terumbu Mabloe dan sekitarnya termasuk ke dalam wilayah dengan sebutan Tanjung Bakung.

“Pantai ini menjadi persinggahan burung migran di dunia berdasarkan pendapat para peneliti. Pantai ini juga termasuk sabuk hijau hutan Mangrove di pesisir pantai timur Sumatera,” ungkap Junaidy belum lama ini.

Akses menuju pantai terumbu mabloe ini tidaklah sulit dan sangat mudah dicapai dari Tembilahan yang merupakan Ibukota Kabupaten Inhil, yaitu hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan menggunakan speed boad.

Jika dari Desa terdekat yaitu Desa Sungai Bela, pantai ini hanya berjarak sekitar 5 menit dari bantaran Desa Sungai Bela jika menggunakan pompong, sampan atau perahu bermesin.

“Lokasi yang relatif dekat dari Kota Tembilahan (Ibu Kota Kabupaten Inhil), membuat Pantai Terumbu Mabloe begitu potensial dikembangkan dan menarik pengunjung,” tutur Junaidy.

PANTAI TERUMBU MABLOE DAN SUKU DUANO

Berdasarkan KBBI, arti Terumbu sudah jelas dangkalan di laut yang tidak terlalu luas atau hanya terlihat apabila air surut.

Pantai Terumbu Mabloe akan hilang jika air laut sedang pasang, sehingga para wisatawan hanya dapat menikmati dikala surut, adwalnya tidak menentu, bisa pagi, bisa sore, bahkan bisa malam.

Sedangkan untuk Mabloe, sampai hari ini belum ada KBBI berilis makna yang tersurat. Wajar saja, Mabloe atau Mablu jika dibaca, adalah kosa kata asli dari Suku Duanu yang artinya Sungai Bela.

Jika ada yang berpendapat Suku Duanu baru berkembang-biak kemarin sore, maka dapat dipastikan keliru.

Nyatanya, suku yang termasuk kategori Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Riau ini sudah lahir sejak zaman batu.

Hal ini dibenarkan oleh seorang tokoh Suku Duanu, Sarpan Firmansyah, S.Pdi yang juga selaras dengan catatan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Inhil dalam Tabloid ‘Inhil Nan Molek’

“kata Mabloe di Pantai itu sengaja ditulis dengan ejakan warisan masa kolonial yang pernah digunakan di Republik ini, yaitu Ejaan Van Ophuijsen sebagai tanda keberadaan Duanu sudah lahir sejak dahulu kala,” tutur Sarpan.

Lebih lanjut Sarpan mengisahkan, dari catatan sejarah, Suku Duanu sudah berkembang pada tahun 2500 SM sampai dengan 1500 SM dan mereka tinggal di pinggiran pantai Kabupaten Inhil.

“Dan tradisi menongkah tadi, kala itu mereka sudah melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Suku Duanu ini termasuk suku nomaden. Artinya, mereka suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pulau ke pulau lain, atau dari satu ceruk ke ceruk lain,” imbuhnya.

Tidak ada pedoman khusus untuk kata Duanu. Sebab dalam catatan Wikipedia, maka yang muncul adalah ‘Duano’ yakni satu jenis bahasa yang digunakan orang kuala yang persebarannya meliputi pesisir timur Provinsi Riau, Kepulauan Riau bagian barat, dan sebagian pesisir barat Johor, Malaysia.

Ditambahkannya, Wikipedia juga merilis kata ‘Duano’ sebagai jenis suku yang terletak di Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi yang berpusat di Jalan Trio Perkasa.

Sementara itu, dalam catatan kamus yang dipedomani masyarakat Indonesia ini hanya terdapat kata ‘Duane’ yang artinya instansi pemerintah yang bertugas di pelabuhan udara atau laut untuk menyelenggarakan dan mengawasi semua urusan yang berhubungan dengan bea cukai.

“Kata ‘Duane’ diambil dari Bahasa Belanda yakni Douane yang artinya penjaga laut. Kenyataannya memang benar. Pada masa kerajaan, masyarakat Suku Duanu ini difungsikan sebagai penjaga laut. Mereka diberi kewenangan untuk menjaga pesisir pantai oleh raja. Salah satu contoh di wilayah kita adalah Kerajaan Indragiri,” cerita Sarpan.

Maka dari itu, slogan Pantai Terumbu Mabloe digaungkan dengan kalimat ‘Piak Duanu Lap Ne Dolak’, artinya tak kan Duanu hilang di laut.

Apalagi jumlah populasi Suku Duanu saat ini sudah menyebar lebih kurang 17 ribu jiwa di Kabupaten Inhil. Terutama di wilayah pesisir seperti Kecamatan Kuindra, Kecamatan Concong, dan Kecamatan Tanah Merah.

loading...

Komentar