Scroll untuk baca artikel
Berita

Dari Sungai hingga Lautan Asap, 9 Hari Kapolres Inhil Pimpin Pasukan Berjibaku Menaklukkan Bara

×

Dari Sungai hingga Lautan Asap, 9 Hari Kapolres Inhil Pimpin Pasukan Berjibaku Menaklukkan Bara

Sebarkan artikel ini

Infoinhil.com – Indragiri Hilir, Sembilan hari bergelut dengan asap dan bara. Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., memimpin tim gabungan berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Inhil, Riau.

Perjalanan itu tak mudah. Sungai dilalui, semak belukar ditembus, lahan gambut disusuri. Ketika malam tiba, Donny bersama personel memilih bertahan dan bermalam di medan karhutla demi memastikan bara benar-benar padam.

Rangkaian penanganan berlangsung sejak 23 Agustus hingga Senin (31/8/2026). Dari Simpang Gaung, Kayu Raja, Sungai Rukam hingga Lahang Hulu, Kapolres berpindah dari satu medan karhutla ke medan lainnya bersama TNI, Polri, BPBD, Damkar, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah, perusahaan, relawan dan masyarakat.

Perjuangan salah satunya dimulai di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung. Pada Minggu (23/8), Donny bersama Dandim 0314/Inhil Letkol Arm. Wahib Mustofa Fathurrahman, M.Han., memimpin sekitar 120 personel gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan.

Saat itu, 23 titik api terdeteksi di Parit 12, Desa Simpang Gaung. Kebakaran berada dalam satu hamparan lahan gambut dengan luas terdampak diperkirakan sekitar 10 hektare.

Medan menuju titik api sulit ditempuh. Sumber air jauh dan jaringan komunikasi terbatas. Namun operasi terus dilakukan hingga api berhasil dipadamkan dan tim melanjutkan pendinginan terhadap titik-titik yang masih mengeluarkan asap.

Belum selesai di Gaung, perjalanan berlanjut ke Desa Kayu Raja, Kecamatan Keritang.

Donny kembali memimpin langsung pemadaman dan pendinginan pada Selasa (25/8). Tim gabungan menyisir kawasan Parit 17 dan Parit 18, membuat sekat bakar serta melakukan pendinginan di atas lahan gambut.

Hari demi hari berlalu, tetapi perjuangan belum berhenti.

Bermalam di Tengah Karhutla
Medan berikutnya membawa Kapolres dan tim gabungan ke Desa Sungai Rukam, Kecamatan Enok.

Untuk mencapai lokasi, petugas harus melewati sungai dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Akses yang sulit dan terbatasnya sumber air menjadi tantangan tersendiri.

Di atas lahan gambut, padamnya api di permukaan tak serta-merta membuat pekerjaan selesai. Bara dapat tersimpan di bawah tanah dan kembali menyala sewaktu-waktu.

Donny pun memilih bertahan bersama personelnya.
Malam datang, tetapi mereka tidak pulang.Di tengah semak, gambut dan sisa asap, Kapolres bersama personel TNI-Polri serta tim gabungan bermalam di lokasi. Sebagian petugas beristirahat bergantian, sementara lainnya tetap melakukan pengawasan dan pendinginan.

Tak ada kamar ataupun tempat tidur yang nyaman. Medan karhutla menjadi tempat mereka melepas lelah sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.

Prinsip Donny sederhana,pantang pulang sebelum api benar-benar padam.

“Kami bermalam di lokasi untuk memastikan pemadaman dan pendinginan berjalan maksimal. Di lahan gambut, api permukaan bisa saja padam, tetapi bara di dalam tanah masih menyala,” kata Donny.

Dari Sungai Rukam Bergeser ke Lahang Hulu, perjalanan belum selesai.Kapolres kembali memimpin tim gabungan menuju kawasan Lahang Hulu, Kecamatan Gaung.

Minggu (30/8) malam, Donny kembali memilih bertahan bersama personel di tengah medan karhutla.

Titik demi titik diperiksa. Lahan yang masih mengeluarkan asap kembali disiram. Kawasan bekas terbakar terus diawasi agar api tidak kembali muncul.

“Api yang terlihat sudah padam bukan berarti kita langsung meninggalkan lokasi. Kita harus memastikan melalui pendinginan dan penyisiran bahwa bara benar-benar mati,” ujar Donny.

Menurutnya, seluruh perjuangan tersebut bukan kerja satu institusi. TNI, Polri, BPBD, Damkar, Manggala Agni, pemerintah, perusahaan, MPA, relawan hingga masyarakat memiliki peran dalam penanganan karhutla.

“Alhamdulillah, api dapat kita kendalikan dan padamkan. Ini bukan keberhasilan satu pihak, tetapi hasil kerja keras dan kebersamaan seluruh tim yang terlibat,” katanya.

Hari Kesembilan, Bara Masih Dilawan, senin (31/8), rangkaian penanganan memasuki hari kesembilan. Di Parit 14 Desa Kayu Raja, Kecamatan Keritang, tim gabungan kembali melakukan pemadaman dan pendinginan sejak pukul 09.00 WIB.

Berdasarkan laporan lapangan, total lahan yang ditangani di lokasi tersebut mencapai sekitar 80 hektare. Sekitar 40 hektare dinyatakan padam, sementara 40 hektare lainnya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.

Sebanyak 27 personel Polri,16 personel TNI, 16 personel BPBD, lima MPA dan 16 warga diterjunkan.

Mereka kembali menghadapi gambut tebal dan angin kencang. Bara yang tersimpan membuat pendinginan membutuhkan waktu panjang.

Jaringan komunikasi yang terbatas turut menjadi kendala. Petugas kesulitan berkomunikasi ketika membutuhkan tambahan bahan bakar mesin pemadam dan kebutuhan lainnya.

Meski demikian, pemadaman terus dilakukan hingga sekitar pukul 17.30 WIB. Operasi dijadwalkan kembali dilanjutkan Selasa (1/9).

Sementara itu, hasil verifikasi di Desa Simpang Gaung pada Senin tidak menemukan titik api. Begitu pula di wilayah hukum Polsek Tempuling, pengecekan melalui Dashboard Lancang Kuning Nusantara menunjukkan nihil hotspot.

Sembilan hari perjalanan itu menjadi potret panjang perjuangan melawan karhutla di Inhil.

Bagi Donny, memimpin operasi bukan hanya memberikan instruksi dari posko. Ia turun bersama personel, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya dan memilih bermalam ketika medan belum dinyatakan benar-benar aman.

Ketika sungai harus diseberangi, tim bergerak.Ketika semak dan gambut menghadang, mereka tetap masuk.

Ketika malam datang sementara bara masih tersimpan di bawah tanah, mereka memilih bertahan.

Namun Donny menegaskan, perjuangan tersebut adalah kerja bersama.

“Yang paling penting adalah kebersamaan. Di lapangan kita satu tim, satu tujuan, bagaimana api segera padam, masyarakat terlindungi dan lingkungan kita dapat diselamatkan,” tegasnya.

Kini, setelah sembilan hari bergelut dengan sungai, semak, gambut, asap dan bara, perjuangan belum sepenuhnya berakhir.

Selama masih ditemukan asap dan bara di bawah gambut, pendinginan akan terus dilakukan.

Sebab bagi Kapolres Inhil dan tim gabungan, api yang tak lagi terlihat belum tentu benar-benar mati. Mereka baru akan meninggalkan medan ketika bara terakhir dipastikan padam.