Scroll untuk baca artikel
Berita

Orasi di Hadapan 1.000 Siswa, Kapolda Riau Bicara 3 Krisis Besar Masa Depan

×

Orasi di Hadapan 1.000 Siswa, Kapolda Riau Bicara 3 Krisis Besar Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Infoinhil.com – Riau, Kepala Kepolisian Daerah Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa masa depan lingkungan, kualitas kehidupan sosial, serta keberlanjutan Provinsi Riau sangat ditentukan oleh keberanian generasi muda untuk peduli dan bertanggung jawab.
Hal tersebut disampaikan Irjen Herry saat memberikan orasi dalam kegiatan Youth Green Policing Eco Academy (YGPEA) 2026 yang digelar di GOR Tri Buana, Pekanbaru, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan ini diikuti sekitar 1.000 pelajar dari berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Riau. Turut hadir sebagai orator Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Guru Besar Filsafat Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Robet, serta aktivis lingkungan Sherly Annavita.
Dalam orasinya, Irjen Herry menekankan bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu diawali oleh anak-anak muda yang memilih untuk tidak diam.

Ia menyebut kepemimpinan tidak selalu identik dengan jabatan dan kekuasaan, melainkan lahir dari keberanian untuk bertindak saat banyak orang memilih bersikap pasif.
“Kalian tidak harus menjadi pejabat untuk berdampak, dan tidak harus menjadi tokoh terkenal untuk berarti. Kalian hanya perlu menjadi generasi yang peduli, berani, dan bertanggung jawab,” ujar Irjen Herry.
Ia mencontohkan tindakan sederhana yang memiliki dampak besar, seperti membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk menjaga sungai, tidak menyebarkan hoaks untuk merawat kedamaian sosial, serta berani melaporkan perusakan lingkungan demi menjaga masa depan.
Menurut lulusan Akpol 1996 itu, kepemimpinan paling murni justru lahir dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kapolda Riau juga menekankan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah tiga krisis besar sekaligus, yakni krisis iklim, krisis kepercayaan, dan krisis kepedulian.
Ia menyebut krisis iklim kini tidak lagi menjadi isu yang jauh, melainkan nyata melalui banjir yang semakin sering terjadi, musim kemarau yang kian panjang, hingga kabut asap yang pernah menutup langit Riau.
“Cara kita memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi setelah kita. Hutan ini bukan warisan dari leluhur kita, tetapi titipan dari anak cucu kita di masa yang akan datang,” tegasnya.
Pada aspek sosial, Irjen Herry mengingatkan adanya krisis kepercayaan yang ditandai dengan mudahnya hoaks menyebar dan kebencian menjadi lebih viral dibandingkan kebaikan.
Ia menekankan pentingnya etika digital, verifikasi informasi, serta keberanian untuk bersikap jujur sebagai fondasi membangun kembali kepercayaan publik.
“Setiap kali kalian memilih berkata jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang menenun kembali benang kepercayaan yang rapuh itu,” ucapnya.
Lebih lanjut, Irjen Herry yang akrab disapa Herimen menyoroti krisis kepedulian sebagai tantangan yang paling berbahaya.
Menurutnya, dunia tidak runtuh karena terlalu banyak orang jahat, melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.
“Kalian tidak harus menyelamatkan dunia dalam satu hari. Kalian hanya perlu melakukan bagian kalian dengan konsisten, dengan integritas, dan dengan hati,” tuturnya.
Ia menegaskan, masa depan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dibangun oleh pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari.
“Kalian bukan hanya sedang membangun masa depan kalian sendiri. Kalian sedang membangun masa depan Riau dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.