Infoinhil.com — Inhil, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali mencatat prestasi membanggakan di level internasional.
Fengkie Junis, pemuda asal Inhil, berhasil meraih gelar juara dalam ajang PAN-SEA AI Developer Challenge 2025, kompetisi hackathon bergengsi yang digelar oleh AI Singapore sebagai bagian dari rangkaian AIMX 2025.
Kompetisi yang berlangsung di Marina Bay Sands, Singapura, ini diikuti ratusan inovator dari berbagai negara Asia Tenggara dengan total 236 submission.
Inovasi “Lentera” untuk Pendidikan Daerah Terpencil
Dalam keikutsertaannya, Fengkie menggandeng rekannya Raka Fantino untuk menghadirkan Lentera, sebuah aplikasi kecerdasan buatan yang dapat beroperasi sepenuhnya tanpa koneksi internet.
Konsep ini muncul dari keprihatinan terhadap kesenjangan akses pendidikan, khususnya di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal), di mana pelajar sering tidak dapat mengakses materi digital karena tidak adanya jaringan.
“Lentera” dirancang sebagai alat belajar portabel yang memungkinkan pelajar mengakses materi pembelajaran, bimbingan belajar berbasis AI, hingga fitur interaktif, semuanya tanpa jaringan internet.
Masukan Guru Lapangan Perkuat Desain Aplikasi
Proses pengembangan aplikasi ini turut diperkaya melalui kontribusi Nadia Eka Putri, guru SD di Simpang Enok, yang memberikan gambaran nyata mengenai tantangan pembelajaran di sekolah tanpa akses digital.
Dari pengalamannya, banyak siswa tidak hanya kekurangan jaringan, tetapi juga tidak memiliki perangkat memadai untuk membuka materi pembelajaran daring. Masukan tersebut membuat “Lentera” dibuat lebih relevan dengan kondisi lapangan.
Kolaborasi Visual dan Publikasi Melibatkan Banyak Pihak
Dari sisi visual, proyek ini didukung oleh Chriss Aditya sebagai video editor yang memastikan presentasi “Lentera” tersampaikan dengan jelas kepada juri internasional.
Publikasi dan kampanye digital turut diperkuat oleh InstaInhil sebagai media partner sehingga proyek ini mendapat perhatian luas dan dukungan besar dari masyarakat Inhil.
Dukungan moral juga datang dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga warga Inhil di berbagai daerah.
Motivasi di Balik Proyek: Kesempatan Belajar yang Setara
Fengkie menjelaskan bahwa motivasinya berakar dari perhatian terhadap minimnya kesempatan belajar bagi anak-anak di daerah terpencil.
“Saya ingin anak-anak di daerah terpencil punya kesempatan yang sama untuk belajar dan mengenal teknologi. Kalau mereka tidak punya internet, maka teknologi harus datang dalam bentuk yang bisa mereka gunakan. Itulah kenapa Lentera dibuat sepenuhnya offline,” ujarnya.
Bagi Fengkie, kemenangan ini bukan sekadar capaian kompetisi, melainkan komitmen untuk menjawab kebutuhan pendidikan di wilayah yang tertinggal dalam akses digital.
Penghargaan Diserahkan Pejabat Tinggi Singapura
Prestasi Fengkie mendapat penghormatan langsung ketika Tan Kiat How, Senior Minister of State di Ministry of Digital Development and Information serta Ministry of Health, Singapura, menyerahkan penghargaan kepadanya di panggung AIMX 2025.
Momen ini menjadi simbol pengakuan internasional terhadap solusi digital yang dinilai memiliki dampak sosial besar bagi jutaan pelajar tanpa akses internet.
Mengharumkan Nama Inhil di Kancah Global
Kemenangan ini mengharumkan nama Kabupaten Indragiri Hilir di tingkat internasional.
Lebih dari itu, capaian Fengkie menunjukkan bahwa talenta dari daerah mampu bersaing dan menorehkan prestasi di panggung global melalui solusi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Inhil untuk terus berkarya, memanfaatkan teknologi, dan menghadirkan inovasi yang menjawab tantangan sosial.(*)





