oleh

Rasakan Sensasi “Ekowisata Mangrove” Wisata Alam Hutan Mangrove di Pantai Solop Inhil

banner 720x90

Mandah, Infoinhil.com – Berada di pesisir timur Provinsi Riau atau tepatnya di Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), hutan mangrove tumbuh liar sekitar 40 km persegi di kawasan Ekowisata Pantai Solop dan menjadi bagian dari seratus ribu lebih hektar hutan mangrove di Inhil.

Namun yang menjadikan mangrove pantai solop spesial adalah, terdapat berbagai flora dan fauna langka khas hutan magrove yang tentu saja menjadi daya tarik alami bagi sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara.


banner 970x250

Jenis flora seperti teruntum bunga putih, teruntum bunga merah, piyai, bakau minyak atau daek, lenggadai, kedabu, tumu, perepat, nyirih, nyirih batu, tengar dan api-api, akan sangat mudah ditemui di hutan mangrove yang terletak persis di belakang bibir pantai seresah Solop.

Berjalan diantara tanaman mangrove yang tumbuh liar dan diperkirakan sudah berusia puluhan tahun ini, tentu saja mempunyai sensasi tersendiri.

Terlebih lagi bagi pencari suasana tenang, teduh, asri serta jauh dari kebisingan hingar bingar kota yang membosankan.

Untuk menikmati semua keindahan dan keunikan alami hutan mangrove ini, para pengunjung tidak perlu khawatir dengan membayangkan hutan mangrove pada umumnya.

Karena Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) yang kini dibawah kepemimpinan Junaidy, S.Sos.,M.Si telah menyiapkan tracking kering (jerambah) bagi wisatawan untuk menikmati hutan mangrove nan molek ini.

Dengan panjang 1500 meter, tracking kering ini membentang persis di bawah rimbunan pohon-pohon bakau alami yang tumbuh tinggi menjulang.

Melalui tracking inilah, para wisatawan bisa dengan nyaman menikmati akar saling silang pohon bakau berketinggian mencapai 2 meter.

Wisatawan juga bisa menikmati hutan mangrove dari ketinggian melalui menara pantau yang dibangun setinggi 12 metet tepat di tengah area hutan mangrove.

Dengan ketinggian yang hampir persis dengan tingginya pohon yang ada disana, tentu saja memberikan sudut pandang berbeda bagi wisatawan.

Apalagi rimbunnya pohon di kawasan hutan mangrove ini menjadi surga bagi satwa-satwa liar, antara lain, elang bondol, elang laut, bangau tontong dan monyet – monyet yang bergelayut di pohon akan sangat mudah dijumpai dibalik rerimbunan hutan mangrove.

Tidak hanya sampai disitu saja, sudut pandang berbeda juga tersaji melalui sungai kecil bernama sungai keceng yang membentang di tengah rerimbunan hutan mangrove di kawasan ekowisata solop ini.

Inilah yang dinamakan tracking basah, track alami yang memang sudah disiapkan oleh sang pencipta dan bisa dinikmati oleh wisatawan menggunakan sampan kecil (jongkong) milik masyarakat.

Jika air pasang tiba, wisatawan bisa menyusuri sungai ini untuk menikmati akar tunjang mangrove yang menjurai terjuntai di kiri kanan sungai.

Tidak hanya menyusuri sungai untuk menikmati keindahan alami hutan mangrove, wisatawan juga bisa menikmati dan mencoba berbagai sensai lain di kawasan tracking basah ini.

Wisatawan bisa mencoba menangkap kepiting bakau (ketam), atau juga disebut mangrove crab, mud crad yang memiliki capit atau sepit besar yang berkembang biak secara alami disela – sela akar tunjang hutan mangrove yang dikawasan ini dengan alat tangkap bernama pento.

Selanjutnya wisatawan juga bisa menikmati sensasi mencari lokan jenis moluska yang kulit dan dagingnya lebih besar dari kerang dara di lopak antara rerumpunan batang piyai.

Selain itu, sensasi menangkap siput borongan dan siput hisap juga menanti wisatawan, untuk selanjutnya dimasak dan dinikmati bersama-bersama sebagai menu makan siang setelah lelah menyusuri sungai keceng ini.

Di kawasan ini juga menyajikan tantangan bagi wisatawan yang memiliki hobi memancing, sehingga spot ini layak untuk di coba.

Sentakan ikan sembilang yang parasnya serupa ikan lele dengan sengat patil yang beracun akan menjadi tantangan sendiri bagi pemancing di sungai ini.

Khusus bagi para pemancing yang masih penasaran, bisa keluar dari anak sungai keceng untuk menuju kuala igal, kuala pelanduk dan kuala mandah untuk melanjutkan petualangan menunggu sambaran ikan senangin, kakap, kurau, senonggang, pari dan lainnya.

Keindahan alami hutan mangrove yang berada di kawasan ekowisata solop ini, bisa dinikmati oleh wisatawan dengan menempuh jarak sekitar 75 menit speedboat dari Kota Tembilahan, Ibukota Kabupaten Inhil yang juga bisa ditempuh sekitar 6 jam menggunakan jalan darat dari Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru.

Bagi wisatawan yang sekedar ingin istirahat dan menginap, jangan khawatir karena untuk menunjang dan memanjakan para wisatawan disediakan fasilitas Gazebo dan homestay dikawasan ekowisata ini.

Keramah-tamahan masyarakat setempat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan siap menyambut wisatawan dengan senyuman.

Dengan segala keunikan dan kealamian dan keasriannya, maka tidak heran bila suasana hutan mangrove yang ada di sekitar Pantai Solop Desa Pulau Cawan, membuat terkesima para wisatawan.

Menurut seorang wisatawan, Mangrove yang ada di kawasan ekowisata Pantai Solop sangat berbeda karena banyak sekali jenis mangrovenya.

“Bagus sekali ini hutan mangrovenya, di Bali saja gak seperti ini bagusnya, tapi karena sudah diketahui dunia luar makanya ramai disana,” ujar Andik saat tiba di kawasan eko wisata Pantai Solop beberapa waktu lalu.

Tidak hanya pengunjung dalam negeri, Konsulat Malaysia Pekanbaru yang secara langsung mengunjungi Pantai Solop beberapa waktu lalu, mengakui keasrian hutan magrove Pantai Solop.

“Suasana hutan bakau yang ada di Pantai Solop, seakan-akan berada dikampung halaman sendiri,” imbuhnya.

Menurut Kepala Desa (Kades) Pulau Cawan, Said Hairul, pengunjung hutan mangrove maupun Pantai Solop di kawasan ekowisata ini, akan meningkat tajam pada saat hari libur dan hari besar.

“Sekarang ramainya hari minggu, tidak hari sabtu lagi. Yang paling ramai itu di hari ketiga Idul Fitri,” ujarnya.(sdh/Adv).

loading...

Komentar