Developed in conjunction with Joomla extensions.

Temuan Baru Ungkap Kejadian Setelah Asteroid Raksasa Hantam Bumi

International
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times
North Dakota - Gambaran naiknya permukaan air Gelombang getaran seismik memicu gelombang air, biasa dikenal dengan seiche. (Robert DePalma)

Para ilmuwan berhasil mendapatkan gambaran luar biasa tentang dampak dari hantaman asteroid pada permukaan Bumi 66 juta tahun yang lalu, yang antara lain memusnahkan dinosaurus.

Penggalian di North Dakota, Amerika Serikat, menemukan fosil-fosil ikan dan pohon yang terhujani batu dan batu kaca yang jatuh dari langit.

Deposit yang ditemukan juga memperlihatkan adanya bukti terjangan air, yang diyakini berasal dari kenaikan permukaan air laut secara besar-besaran akibat dari imbas benturan asteroid.

Rincian dampak benturan benda langit di permukaan Bumi ini diuraikan secara terperinci di Jurnal PNAS.

Robert DePalma Robert DePalma adalah mahasiswa strata tiga University of Kansas yang mendalami geologi. (Robert DePalma)

Dalam artikel di jurnal tersebut, Robert DePalma dan beberapa rekan dari University of Kansas, mengatakan bahwa penggalian di kawasan yang dikenal dengan sebutan Tanis, di North Dakota, memberi gambaran luar biasa tentang apa yang terjadi 10 menit hingga beberapa jam setelah asteroid raksasa menghantam Bumi.

Ketika benda langit dengan garis tengah 12 km ini menghantam kawasan di Bumi, yang sekarang adalah Teluk Meksiko, miliaran ton batu-batu yang meleleh dan sangat panas terlempar ke segala arah dengan ketinggian mencapai ribuan kilometer.

Di Tanis, fosil-fosil yang ditemukan, di antaranya fosil ikan, seakan merekam momen tersebut, ketika batu-batu yang berukuran kecil ini jatuh kembali ke Bumi dan menghantam mereka.

Batu-batu kecil itu juga ditemukan "terperangkap" di dalam getah pohon.

Fosil ikan Fosil ikan saling bertumpukan diyakini setelah terdorong oleh gerakan air. (Robert DePalma)

Para ahli berhasil menemukan kaitan antara batu-batu tersebut dengan apa yang terjadi di kawasan di Teluk Meksiko yang biasa dikenal dengan daerah benturan Chicxulub.

Serpihan batu yang ditemukan di Tanis, setelah dilakukan pengukuran, berasal dari era 65,76 juta tahun yang lalu. Hasil pengukuran ini kurang lebih sama dengan waktu terjadinya benturan asteroid ke Bumi di Teluk Meksiko.

Dari analisis terhadap formasi deposit di Tanis, para ahli bisa melihat bahwa area tersebut pernah diterjang gelombang besar.

Salah satu analisis adalah terjangan ini berasal dari tsunami yang dipicu oleh benturan asteroid.

Namun untuk mencapai North Dakota dari Teluk Meksiko, tsunami ini memerlukan waktu berjam-jam karena jarak antara kedua titik ini adalah sekitar 3.000 kilometer.

Tektites Pengukuran terhadap tektite (batu kaca alami) menunjukkan material ini berusia 65,76 juta tahun. (Robert DePalma)

Para peneliti punya teori lain. Terjangan air di Tanis, menurut mereka, bukan akibat tsunami tapi dari pergerakan air setempat yang dipicu oleh gelombang kejut seismik, yang kekuatannya setara dengan kekuatan gempa Magnitudo 10 atau 11 pada skala Richter.

Pergerakan air akibat gelombang kejut seismik ini biasa disebut seiche.

Diperkirakan, air ini menggulung apa pun yang ada di jalurnya dan hasilnya adalah bercampur aduknya spesimen seperti yang ditemukan peneliti di Tanis.

"Kami menemukan fosil ikan air tawar, vertebrata darat, pohon, cabang pohon, batang pohon, dan binatang-binatang laut yang bercampur di satu lapisan yang sama," kata DePalma.

Ia menjelaskan jika ini disebabkan oleh tsunami, maka tsunami memerlukan waktu setidaknya 17 jam untuk mencapai Tanis. Tapi jika disebabkan oleh pergerakan air setempat akibat dari gelombang kejut seismik, maka hanya diperlukan waktu sekitar 10 menit.

Salah satu anggota tim penulis di Jurnal PNAS adalah Walter Alvarez, ahli geologi dari California yang bersama sang ayah, Luis, membantu mengembangkan teori impak yang menyebabkan punahnya dinosaurus.

Walter dan Luis Alvarez mengidentifikasi lapisan sedimen di perbatasan periode Cretaceous dan Palaeogene yang kaya dengan iridium, elemen yang biasanya ditemukan di asteroid dan meteor.

Jejak-jejak iridium ditemukan di bagian atas deposit Tanis.

"Ketika kami mengajukan 'hipotesis impak' untuk menjelaskan kepunahan besar-besaran (di permukaan Bumi), itu semata-mata didasarkan pada penemuan konsentrasi iridium, bukti kuat adanya faktor asteroid dan meteor," kata Alvarez.

"Sejak itu, sedikit demi sedikit, makin banyak bukti yang mendukung teori ini. Tapi kami tak pernah menyangka akan ada bukti yang sangat kuat seperti (yang ditemukan di Tanis) ini," imbuhnya.

Phil Manning, satu-satunya pakar dari Inggris yang menjadi anggota tim penulis, mengatakan, "(Tanis) sekarang menjadi salah satu situs di Bumi yang paling penting. Jika Anda ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi di detik-detik terakhir era kejayaan dinosaurus, maka Anda harus datang ke sini."

Kawah Chicxulub - Kejadian yang mengubah kehidupan di Bumi

  • Objek dengan garis tengah 12 km menghantam Bumi, menyebabkan lubang di kerak Bumi dengan panjang 100 km dan kedalaman 30 km
  • Mangkuk ini kemudian ambruk, meninggalkan kawah dengan diameter 200 km, kedalaman beberapa km
  • Dewasa ini, sebagian besar kawah ini adalah bagian dari kawasan pantai
  • Di darat, kawah tertutup oleh batu kapur; lingkar kawah ditandai dengan munculnya lubang yang dikenal dengan cenote
  • Belum lama ini, saintis mengebor kawah untuk mengetahui formasi kawah ini

(ita/ita)


Sumber: detik.com
Loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.

loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.