Scroll untuk baca artikel
Berita

Festival Sampan Leper, Berawal dari Tradisi Masyarakat Inhil Menaklukan Sungai Batang Tuaka yang Surut

×

Festival Sampan Leper, Berawal dari Tradisi Masyarakat Inhil Menaklukan Sungai Batang Tuaka yang Surut

Sebarkan artikel ini

Infoinhil.com – Kondisi pasang surut Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) membuat masyarakat harus beradaptasi agar bisa tetap menjalani kehidupan sehari – hari.

Hal inilah yang terjadi pada masyarakat Kabupaten Inhil yang tinggal dan menetap di sepanjang Sungai Batang Tuaka.

Sungai dengan kondisi daerah pasang surut tersebut awalnya tidak bisa dilewati oleh warga dengan sampan pada saat air sedang pasang.

Namun warga tidak menyerah, karena apabila harus menunggu air pasang hingga akhirnya bisa dilewati oleh sampan tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sementara warga harus tetap melanjutkan kegiatan sehari – harinya seperti sekolah, kerja, berdagang dan lainnya.

Warga setempat pun berinovasi dengan menciptakan sampan lemper agar tetap bisa melintasi sungai yang surut dan dangkal.

Warga merenovasi sampan agar bisa tetap berjalan ditengah kondisi surut dengan membuat bagian bawah sampan menjadi datar.

Alat transportasi legendaris ini pun menjadi sebuah Mahakarya dari Negeri Seribu Parit, Negeri Hamparan Kelapa Dunia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dengan mengayuh sampan di atas lumpur.

Pada saat ini sampan leper tidak hanya menjadi alat transportasi semata dan sudah menjadi satu diantara daya tarik wisata di Kabupaten Inhil.

Keunikan Festival sampan leper menjadikannya cultural event yang unik dan langka serta berbeda sehingga menyedot banyak wisatawan dan menjadi Calender Of Event Kabupaten Indragiri Hilir yang dilaksanakan setiap bulan Juli. 

Bagi wisatawan yang ingin melihat sampan leper selain pada saat festival, moda transportasi ini masih sering digunakan dan dapat dilihat di Pekan Arba sebagai sebuah living culture (budaya yang hidup).

Tidak hanya sampai disitu, keunikan festival sampan leper telah mengantarkannya masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2019.

Tradisi bersampan di atas lumpur itu mendapat penghargaan API 2019 yang dilaksananakan oleh konsultan Pariwisata Ayo Jalan – Jalan di dukung oleh Kemenparekraf RI.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Staf Ahli Multikultur Kemenparekraf RI Guntur Sakti, S.Sos, M.Si kepada Bupati Inhil Drs HM Wardan MP yang diwakili Kadisrporabudpar Inhil H Junaidy Ismail. S Sos, MSi di Balai Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata dan Ekraf RI di Jakarta, Jumat (22/12/2019).

Kepala Dinas Pemuda Dan Olahraga, Budaya Dan Pariwisata (Kadisparporabud) Kabupaten Inhil, H Junaidy Ismail, S.Sos M.Si, mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Riau dan Kabupaten Inhil yang telah menyumbangkan votenya melalui SMS yang dikirim. 

“Alhamdulillah kita mendapat peringkat ketiga pada Malam API 2019 sebagai wakil Provinsi Riau kategori Atraksi Budaya, bersaing dengan wakil provinsi lainnya, yaitu, Tari Rentak Kudo – Kota Sungai Penuh dan Dayung Belang – Kabupaten Maluku Tenggara yang menjadi peringkat pertama dan kedua,” ujar H Junaidy Ismail, S.Sos M.Si.

Menurut Junaidi, raihan prestasi ini bisa menjadi kebanggaan tersendiri  bagi Masyarakat di tepian Sungai Batang Tuaka, Inhil, Riau.

“Dimana sampan leper bukan saja sebagai moda transportasi disaat air sedang surut, Sampan Leper telah menjadi atraksi budaya yang menjadi event wisata di Kabupaten Indragiri Hilir bahkan Riau,” imbuh Junaidy Ismail.

Melalui API 2019 ini diharapkan bisa dijadikan sebagai ajang promosi untuk memperkenalkan keunikan dan kekhasan Sampan Leper yang setiap tahunnya rutin di laksanakan dalam Festival Sampan Leper di Kuala Getek Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan.

“Kita akan terus pertahankan budaya ini, karena termasuk unik dan hampir tidak ada dilakukan di daerah manapun di Indonesia,” pungkas Junaidy.