Scroll untuk baca artikel
Berita

Harga Tembus Rp150 Ribu, Udang Nenek Inhil Jadi Primadona Ekspor

×

Harga Tembus Rp150 Ribu, Udang Nenek Inhil Jadi Primadona Ekspor

Sebarkan artikel ini

Infoinhil.com – Inhil, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus mendorong penguatan sektor unggulan perikanan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Misi 1 pembangunan daerah, yakni meningkatkan ekonomi yang merata, inklusif, dan berkelanjutan.

Salah satu potensi yang kini mendapat perhatian serius adalah udang nenek atau udang ketak (Squilla harpax de Haan), komoditas bernilai ekonomi tinggi yang banyak ditemukan di wilayah pesisir Inhil.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs. Eko Rahdippa, MM, menyampaikan bahwa udang nenek merupakan salah satu potensi unggulan daerah yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan pesisir.

“Udang nenek memiliki nilai ekonomis tinggi dan peluang pasar yang sangat besar, baik di dalam maupun luar daerah. Ini sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Inhil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Eko Rahdippa, Kamis (29/1/2026).
Udang nenek banyak ditemukan di perairan pesisir dan muara yang masih alami, khususnya di Kecamatan Concong, Kuala Indragiri, Mandah, dan Tanah Merah.

Musim penangkapan umumnya berlangsung dari November hingga Maret, dengan produksi harian berkisar antara 2.000 hingga 5.000 ekor per hari.

Nelayan menangkap udang nenek menggunakan jaring rampus (drift gillnet) saat air pasang. Selain itu, penangkapan juga dilakukan secara manual di lubang atau tempat persembunyian udang saat air surut, yang dikenal oleh nelayan dengan istilah numbur.

Dalam aktivitas numbur, nelayan juga kerap memperoleh hasil tangkapan lain seperti kerang, serta sesekali ikan sembilang, yang turut menambah pendapatan mereka.

Dari sisi harga, udang nenek asal Inhil tergolong sangat kompetitif. Untuk ukuran A, harga di tingkat nelayan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per ekor. Sementara ukuran B berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per ekor.

Saat ini, pemasaran udang nenek Inhil telah menjangkau Batam, Jakarta, hingga Singapura, sehingga menjadikannya komoditas perikanan yang berorientasi ekspor regional.

Kecamatan Concong tercatat sebagai sentra penangkapan udang nenek terbesar di Kabupaten Indragiri Hilir, dengan produksi yang relatif stabil sepanjang musim.Untuk mendukung pengembangan komoditas ini, Dinas Perikanan Inhil terus memberikan dukungan kepada nelayan, baik melalui pelatihan peningkatan kualitas hasil tangkapan maupun bantuan alat tangkap ramah lingkungan.

“Kami terus mendorong nelayan agar meningkatkan kualitas hasil tangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya. Dengan pengelolaan yang baik, udang nenek dapat menjadi motor penggerak ekonomi pesisir,” jelas Eko Rahdippa.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan, potensi udang nenek diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Indragiri Hilir secara berkelanjutan.