Scroll untuk baca artikel
Berita

Paylater, solusi atau ilusi?

×

Paylater, solusi atau ilusi?

Sebarkan artikel ini
Ria Anggraini Indah Sari, Mahasiswa Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana UNILAK

Infoinhil.com – Perkembangan teknologi finansial telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam sistem pembayaran, salah satunya melalui layanan paylater.

Fasilitas ini menawarkan kemudahan yaitu barang atau jasa dapat diperoleh sekarang dan dibayar belakangan melalui cicilan.
Paylater sekarang sudah jadi bagian dari hidup banyak keluarga. Tinggal klik, barang datang, urusan bayar bisa dipikirkan nanti. Sekilas memang terasa membantu, apalagi kalau dompet lagi tipis tapi kebutuhan atau keinginan muncul.

Masalahnya, kemudahan ini sering bikin orang lupa satu hal penting: uang yang dipakai itu tetap harus dibayar, bukan uang gratis.
Masalah terbesar paylater bukan pada teknologinya, melainkan pada perubahan perilaku yang ditimbulkannya. Orang tidak lagi bertanya, “Apakah saya mampu membeli ini?” melainkan, “Berapa cicilannya per bulan?” Pertanyaan ini terlihat sepele, tetapi dampaknya besar.

Banyak orang terjebak pada cicilan kecil. Nominal seperti Rp150 ribu atau Rp200 ribu per bulan rasanya ringan, bahkan sering dianggap “tidak kerasa”. Contohnya, satu keluarga membeli ponsel baru dengan cicilan Rp300 ribu per bulan, lalu sepatu Rp150 ribu, skincare Rp200 ribu, dan jaket Rp180 ribu.

Masing-masing terlihat wajar, tapi kalau dijumlah, cicilannya mencapai Rp830 ribu setiap bulan. Dari gaji Rp6 juta, hampir sejuta sudah habis hanya untuk bayar cicilan paylater.
Masalah mulai terasa ketika gaji bulanan lebih banyak dipakai untuk menutup tagihan lama. Uang baru masuk, langsung keluar lagi. Kebutuhan penting seperti menabung, dana darurat, atau biaya sekolah anak jadi terabaikan. Ironisnya, banyak barang yang dibeli bukan kebutuhan mendesak, melainkan karena promo, diskon, atau sekadar ikut tren. Akhirnya, paylater yang awalnya niatnya membantu malah mendorong kebiasaan belanja impulsif.

Dampaknya bukan cuma soal uang, tapi juga suasana di rumah. Tagihan yang menumpuk bisa bikin kepala pusing dan emosi naik. Misalnya, seorang ibu tergoda promo paylater 0% untuk beli air fryer dan dekorasi rumah, padahal anaknya sebentar lagi masuk sekolah. Karena tabungan tidak cukup, biaya sekolah akhirnya ditutup dengan pinjaman lain. Hal-hal seperti ini sering jadi sumber pertengkaran karena pengeluaran tidak dibicarakan sejak awal, Bukan berarti paylater harus dihindari total.

Dalam kondisi tertentu, paylater justru bisa jadi penyelamat. Contohnya, seorang ayah menggunakan paylater untuk memperbaiki motor yang dipakai bekerja. Selama cicilannya masih masuk akal dan ada rencana bayar yang jelas, itu termasuk penggunaan yang bijak. Tapi ketika paylater mulai dipakai untuk nongkrong, ganti gadget, atau belanja hal yang bisa ditunda, di situlah masalah muncul.

Intinya, paylater itu seperti pisau: bisa membantu, bisa juga melukai. Aman kalau dipakai seperlunya dan dengan perhitungan matang. Tapi berbahaya kalau dijadikan kebiasaan untuk memenuhi keinginan. Kunci utamanya tetap sama: bedakan kebutuhan dan keinginan, belanja sesuai kemampuan, dan jangan sampai hidup terasa “cukup” hanya karena limit paylater masih tersedia.