Developed in conjunction with Joomla extensions.

Mogok Kerja, Dokter Spesialis Bandingkan RSUD Bagansiapiapi dengan Tembilahan

Rokan Hilir
Typography

BAGANSIAPIAPI (Infoinhil.com) - Para dokter spesialis seperti dokter penyakit dalam, dokter anak, dokter bedah, dokter mata, dokter jiwa, dokter obgyn dan 15 dokter spesialis lainnya yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pratomo Bagansiapiapi melakukan mogok kerja sejak Rabu (10/10/2017).

Dr Surya selaku komite medik menuturkan, mogok kerja tersebut disebabkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib mereka.

"Teman-teman sudah capek minta dan tidak pernah tersedia. Ini tidak ada yang menggerakkan. Ini adalah aksi spontan para dokter yang selama ini kurang diperhatikan,'' kata dr Surya dikutip GoRiau.com, Kamis (12/10/2017).

Ia mendesak, Direktur RSUD dr Tribuana Tunggal Dewi harus segera mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan mereka melalui jalan dialog kepada Bupati Rokan Hilir. Surya juga memohon maaf kepada pasien dan masyarakat karena tidak memberikan pelayanan dengan maksimal mengingat mereka juga membutuhkan penghidupan yang layak sebagaimana dengan dokter lainnya ditempat tugas yang berbeda.

"Aksi ini kami lakukan sebagai perwujudan kepedulian kami terhadap perbaikan Rumah sakit dan perbaikan nasib dokter spesialis. Kami menilai, direktur sudah gagal membangun komunikasi dengan pejabat setempat,'' pungkasnya.

Surya yang juga dosen ini mengungkapkan, ketidaknyamanan mereka dalam bekerja pada dasarnya karena sikap direktur RSUD yang kurang kooperatif dengan para dokter spesialis. Padahal, para dokter spesialis berkontribusi besar dalam menaikkan PAD dengan klaim BPJS hampir Rp 1,5 Miliar perbulan yang masuk ke kas daerah.

"Jangan dianggap kami merugikan pemerintah. Bahkan kami telah membantu pemerintah dengan meningkatkan PAD. Namun sebaliknya, jangankan rumah atau mobil dinas, bahkan motor dinas pun kami tak dapat. Beda dengan pejabat lain dengan segala fasilitasnya,'' bebernya.

Masalah insentif, kata Surya, itu hanya alternatif penghasilan para dokter spesialis. Malahan, insentif mereka sudah nunggak selama 6 bulan yang belum dibayarkan pemerintah. Tambahan lagi, uang jasa mereka juga tidak jelas. Namun, biaya operasional para dokter harus mengeluarkan biaya sendiri dan malahan mereka terpaksa berutang dengan rentenir.

"Coba pikirkan, saya harus ikut seminar minimal sebulan sekali dengan biaya Rp 10 juta. Dari mana sumber dana yang harus saya tanggung. Belum lagi anak kami sudah besar dan butuh biaya kuliah,'' ujarnya.

Dia membandingkan dengan fasilitas dokter spesialis didaerah lain seperti di Tembilahan. Uang klaim BPJS dari RSUD diberikan kepada dokter spesialis sebesar Rp 100 Juta. Sedangkan pada rumah sakit swasta, minimal 20 persen. Kalau dirumah sakit sini, sepersenpun tidak ada.

''Terlalu sakitlah hati kami. Sudah kami minta sama direktur untuk komunikasi sama pemda, tapi tidak ada realisasinya. Kami jangan dimusuhi dan dicari kambing hitam. Secara pribadi, kami sangat kasihan sama pasien dan masyarakat. Kami siap dialog dan kami mencari uang untuk pemerintah,'' kata Surya.

Sementara itu, dokter spesialis anak, dr Suratmin meminta agar direktur menjalin komunikasi dengan para dokter spesialis, DPRD dan Bupati Rohil. Dia berharap, kesampingkan hasrat untuk saling mengancam. 

Mengenai lumpuhnya pelayanan di RSUD, Suratmin berpesan kepada dokter jangan sampai menelantarkan pasien terutama diruang emergency serta pasien kasus ibu hamil.

"Kalau mogok jangan sampai menelantarkan pasien lah. Kemudian kami ingin dialog dengan Bupati dan DPRD. Jangan seperti kemarin anggota Dewan datang bukan atas nama komisi namun secara personal,'' cetusnya. (TW/GRC)

loading...

Developed in conjunction with Joomla extensions.